Asal-Usul Wahabi

Perbedaan-perbedaan dalam Islam memang selalu ada. Perbedaan dalam beragama yang dipengaruhi budaya lokal seperti sekarang ini juga sudah ada pada zaman dahulu. Maka ada Islam yang bergaya bercorak Arab, Islam corak Iran dan Islam corak India[1] yang di sana terjadi perdebatan antara Islam yang murni dengan Islam yang masih berbaur dengan budaya hindu. Praktik-praktik ibadah pun berbeda sesuai madzhab yang dianggap pendapatnya unggul. Ada aliran dalam Islam yang bersikap keras, tidak mau menerima sesuatu kecuali dari Al-Qur an dan Hadis dan ada yang menerima selama tidak melanggar ajaran agama yang universal.

***

Aliran pembaharuan Islam di Arab menampilkan suatu gerakan yang sangat fundamental dan radikal yaitu Wahabiah yang diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787 M). Aliran ini muncul bukan sebagai reaksi politik yang terjadi pada masa kerajaan Usmani dan Mughal, tetapi sebagai reaksi terhadap faham tauhid yang terdapat di kalangan umat Islam pada waktu itu.[2] Bisa dikatakan aliran ini muncul dengan tujuan untuk menegakan kembali syari’at Islam yang dibawa oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW yang pada waktu itu dianggap oleh Wahabi telah banyak menyimpang dan banyaknya sekte-sekte serta madzhab-madzhab dalam Islam yang dinilai menimbulkan perbedaan atau bahkan sampai perpecahan.

Siapakah sebenarya Muhammad bin Abdul wahab, pendiri gerakan Wahabiyah. Tentunya dalam makalah ini tidak akan dibicarakan panjang lebar tentang biografi si tokoh tersebut dari lahir sampai meninggal, tetapi dalam makalah ini penulis menggaris bawahi beberapa catatan penting tentang riwayat Muhammad bin Abdul Wahab hingga lahirnya gerakan Wahabiyah. Muhamma bin Abdul Wahab lahir dari keluarga terpandang yang merupakan para pembesar madzhab Hanbali. Ada sumber yang mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab ini adalah murid sekaligus pengikut Ibnu Taimiyah dan sangat erat keterpengaruhan pemikirannya. Gejala penolakan keras terhadap penyimpangan terlihat ketika Muhammad bin Abdul Wahab dalam umurnya yang baru 20 tahun mencela praktik-praktik masyarakat yang dinilainya bid’ah dan syirik.

Keluarganya yang terpandang dan kaya membuatnya mudah belajar ke mana saja dan mengunjungi kota yang ia inginkan di belahan bumi Arab. Dari situlah ia mulai mendirikan basis-basis kelompoknya yang berpusat di Najed di mana ia pertama kali belajar dan berkolaborasi dengan penguasa-penguasa lokal untuk menyebarkan ajarannya tersebut. Lebih jauh dari pada itu, Muhammad bin Abdul Wahab dan gerakannya juga akhirnya dapat mengadakan kerja sama yang luar biasa dengan Raja Arab Saudi Muhammad Ibn Su’ud dan putranya Abd Al-Aziz di Najed dan mengekspor idiologinya ke seluruh dunia Islam di penjuru dunia hingga Indonesia dan menyebar sekitar abad ke-19, ada yang mengatakan abad ke-18. Mereka adalah gerakan-gerakan di Indonesia seperti Persis, Sumatra Thawalib, dan gerakan-gerakan lain yang mengaku berfaham Wahabi.

 

Ideologi Kefundamentalan Wahabi dan Tindakannya Memberantas Syirik dan Bid’ah

            Ideologi-ideologi Wahabi banyak tertuang dalam buku-buku karangan Muhammad bin Abdul Wahab sendiri yang intinya sangat mengesakan Allah SWT dengan mengharamkan bermohon kepada selainNya atau bermohon kepada Allah tetapi lewat perantara yaitu melalui Syaikh, para Wali, makam-makam orang besar termasuk makam Nabi Muhammad SAW dan mencap sesat terhadap orang orang yang tidak berpegang teguh kepada Al-Quran dan Hadis.

Ideologi di atas akan membawa kita menuju konsep Wahabi selanjutnya tentang Tauhid, Thaghut, dan Takfir. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Tauhid merupakan titik  pokok dalam ajaran Islam dengan mengesakan Allah SWT dan yang akhirnya akan mengantarkan kepada perbuatan-perbuatan shalih. Di dalam buku karangan Harun Nasution di sebutkan delapan perhatian Wahabi terhadap Tauhid yang memang sebenarnya sangat tidak berlawanan dengan syari’at Islam, tetapi Wahabi melabeli orang yang melanggar atau tidak sesuai dengan delapan pernyataannya tersebut kafir dan musyrik seperti menyebut nama Nabi sebagai pengantara dalam do’a syirik, memperoleh pengetahuan melalui qias (analogi) merupakan kekufuran dan menafsirkan Al-Qur’an dengan ta’wil adalah kafir padahal akhirnya pemikiran-pemikiran Wahabi ini membawa kepada terbukanya pintu ijtihad. Pengklaiman kufur dan syirik Wahabi logis adanya, kerena mereka memang sangat fundamaental dalam menggunakan dalil Al-Qur’an dan Hadis untuk menghukumi sesuatu termasuk mereka yang memegang demokrasi dengan meyakininya sejalan dengan Islam pun mereka kafirkan karena dianggap mengubah hukum-hukum Allah.

Selanjutnya, konsep Tauhid tersebut merupakan pijakan untuk dua konsep selanjutnya yaitu Thaghut dan Takfir. Orang-orang yang tidak bertauhid dengan benar adalah kafir dan musyrik, orang-orang kafir dan musyrik termasuk Thaghut dan wajib ditakfirkan seperti firman Allah [3]فمن يكفر بالطاغوت و يؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لا انفصام له . Takfir sendiri adalah praktek Wahabi dalam memberantas syirik baik dengan cara pernyataan kepada seseorang yang dianggapnya kafir atau dengan cara memusnahakan situs-situs yang berbau syirik. Pernyataan Takfir Wahabi seperti kepada al-Fakhr ar-Razi (salah satu takoh Syafi’iyah) bahkan Wahabi menyatakan bahwa umat Islam sekarang ini jauh lebih syirik dibandingkan dengan umat Nabi Muhammad zaman dulu. Diantara tindakan-tindakan Wahabi yang sangat brutal adalah menodai makan Husein bin Ali, membunuh penduduk tak berdosa di sepanjang jazirah Arab, menyerang dan menodai Masjid Nabawi, membongkar makam Nabi dan membubarkan para peziarah di Madinah. Mereka berdalih bahwa orang-orang musyrik harus dibunuh dan mereka juga meniru apa yang dilakukan oleh para sahabat yang ketika itu sahabat Ali bin Abi Thalaib membakar dan mengubur hidup-hidup orang-orang yang ghuluw (berlebih-lebihan) dari kalangan Rafidah, kisah inilah yang sering dipakai oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang konon terkenal di kalangan para ulama.

Kekerasan demi kekerasan yang dilakukan oleh gerakan Wahabi ini dianggap oleh sebagian orang berjasa besar melahirkan terorisme. Wahabisme juga sangat berpengaruh besar terhadap banyaknya gerakan Islam dan radikalisasi-radikalisasi lain atas nama agama, bukan berbasis agama karena agama sendiri tidak pernah mengajarkan kepada pemeluknya agar melakukan tindakan kekerasan. Sikap fundamental, radikal dan ekslusif yang dipraktikan gerakan Wahabi ataupun yang membenarkan dan mengikuti faham tersebut menutup pemaknaan hakikat adanya agama yang sebenarnya khususnya Islam yang memberi kebaikan pada lingkungan, karena terlalu anti terhadap perbedaan dan sangat tekstual atau sempit dalam memaknai Al-Qur an yang sebenarnya kaya makna.

 

Pengaruh Gerakan Wahabi di Indonesia

Kelompok Wahabi sebenarnaya tidak suka disebut Wahabi dan mereka menyebut dirinya Salafisme yang mengacu kepada pemikiran-pemikiran salaf yang intinya mengukuhkan Al-Qur an dan Hadis sebagai landasan syari’ah dan akidah. Adalah K.H Ahmad Dahlan yang sering disebut sebagai salah seorang yang terpengaruh Wahabi setelah kepulangannya dari Arab Saudi untuk belajar, tetapi benar atau tidaknya belum bisa dipastikan bahwa K.H Ahmad Dahlan dalam tindakannya yang mencerminkan tindakan Wahabi karena keterpengaruhannya terhadap gerakan tersebut atau murni tindakannya sendiri dalam rangka meluruskan syari’at Islam.

Banyak gerakan di Indonesia yang mengusung faham salafi seperti FPI (Front Pembela Islam), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), Laskar Jihad (LJ) dan sebagainya yang bisa dibilang mirip dengan gerakan Wahabi di Arab Saudi.

Keberagaman yang ada di Indonesia sedikit demi sedikit mengikis gerakan tersebut dan hampir. Oleh karena itu, sisa-sisa Wahabi perlahan mencoba menelusup kembali untuk mendapatkan kansnya di negri Indonesia. Secara otomatis gerakan-gerakan yang berbau Wahabi harus bisa sedikit menerima perbedaan untuk meraih tempat dalam lingkungan masyarakat secara halus dan kelompok inilah yang sering disebut neo Wahabi.

***

            Makalah ini tentunya belum bisa menyajikan secara keseluruhan segala aspek yang ada pada gerakan pembaharuan Arab yang disebut Wahabi, tetapi mungkin bisa memberikan gambaran global tentang wajah gerakan tersebut. Keberpihakan tentunya wajar, tetapi tidak satupun orang zaman sekarang yang menginginkan kekerasan seperti yang dilkukan oleh gerakan Wahabi apapun tujuannya dan apapun alasannya.

 

Referensi

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan),     Jakarta : Bulan Bintang, 1975

Ridwan, Nur Khalik, Doktrin Wahabi dan Benih-Benih Radikalisme Islam, Jogjakarta : CV. Tiga Bintang

Ridwan, Nur Khalik, Membedah Ideologi Kekerasan Wahabi, Jogjakarta : CV. Tiga Bintang


[1] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, hal. 20

[2] opcid hal. 22

[3] Al-Baqarah 256

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENGERTIAN DAN ASAL-USUL HERMENEUTIKA: SEBUAH PERTIMBANGAN

PENGERTIAN DAN ASAL-USUL HERMENEUTIKA: SEBUAH PERTIMBANGAN

  1.    I.        Pengertian Hermeneutika

Kata “hermeneutika”, dalam bahasa Indonesianya yang kita kenal, secara etimologi berasal dari istilah Yunani, dari kata kerja hermeneuein, yang berarti “menafsirkan”, dan kata benda hermeneia, “interpretasi.[1] Dari asal kata itu berarti ada dua perbuatan; menafsirkan dan hasilnya, penafsiran (interpretasi), seperti halnya kata kerja “memukul” dan menghasilkan “pukulan”. Kata tersebut layaknya kata-kata kerja dan kata bendanya dalam semua bahasa. Kata Yunani hermeios mengacu pada seorang pendeta bijak, Delphic. Kata hermeios dan kata kerja yang lebih umum hermeneuein dan kata benda hermeneia diasosiasikan pada Dewa Hermes, dari sanalah kata itu berasal.[2]

Dewa Hermes mempunyai kewajiban untuk menyampaikan pesan (wahyu) dari Jupiter kepada manusia. Dewa Hermes bertugas untuk menerjemahkan pesan Tuhan dari gunung Olympuske dalam bahasa yang dimengerti oleh manusia. Jadi hermeneutika ditujukan kepada suatu proses mengubah sesuatu atau situasi yang tidak bisa dimengerti sehingga dapat dimengerti (Richard E. Palmer). Ada tiga komponen dalam proses tersebut; mengungkapkan, menjelaskan, dan menerjemahkan.

Filsafat Yunani kuno sudah memberikan sinyal mengenai “interpretasi”. Dalam karyanya Peri Hermeneias atau De Interpretatione, Plato menyatakan “kata yang kita ucapkan adalah simbol dari pengalaman mental kita dan kata yang kita tulis adalah simbol dari kata yang kita ucapkan”. Sehingga dalam memahami sesuatu perlu adanya usaha khusus, karena apa yang kita tafsirkan telah dilingkupi oleh simbol-simbol yang menghalangi pemahaman kita terhadap makna.

Dari uraian di atas ada tiga kesamaan antara tafsir Al-Qur’an dengan hermeneutika. Kesamaan itu tercakup dalam tiga unsur utama hermeneuein yang mana dalam tafsir Al-Qur’an dapat dimasukkan dalam kategori kegiatan hermeneuein tersebut. Pertama, dari segi adanya pesan, berita yang seringkali berbentuk teks, tafsir Al-Qur’an jelas menafsirkan teks-teks yang terdapat dalam Kitab Suci Al-Qur’an; Kedua, harus ada sekelompok penerima yang bertanya-tanya atau merasa asing terhadap pesan itu, dalam hal ini kaum Muslimin pembaca Al-Qur’an, baik yang berbahasa Arab apalagi yang tidak berbahasa Arab. Pesan-pesan Al-Qur’an harus dijelaskan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan petunjuk dan pedoman kehidupan mereka; Ketiga, adanya pengantara yang dekat dengan kedua belah pihak. Untuk unsur ketiga ini pengantara paling dekat dengan sumber, Allah SWT, yaitu Nabi Muhammad SAW, sehingga seluruh mufassir menjadikan Rasulallah SAW sebagai rujukan utama dalam menafsirka pesan-pesan Allah.[3]

Dalam terminologi, hermeneutika banyak didefinisikan oleh para ahli. Mereka (para ahli) memiliki definisinya masing-masing. F D. Ernest Schleirmacher mendefinisikan hermeneutika sebaga seni memahami dan menguasai, sehingga yang diharapkan adalah bahwa pembaca lebih memahami diri pengarang dari pada pengarangnya sendiri dan juga lebih memahami karyanya dari pada pengarang. Fredrich August Wolf mendefinisikan, hermeneutika adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang membantu untuk memahami makna tanda-tanda. Sedangkan menurut Martin Heidegger dan Hans George Gadamer bahwa hermeneutika adalah proses yang bertujuan untuk menjelaskan hakikat dari pemahaman.[4]

Pembaca lebih memahami diri pengarang dari pada pengarang itu sendiri. Inilah hal yang tidak mungkin dalam displin tafsir, sebab mufassir tidak akan bisa memahami pengarang, Allah SWT dan tidak bisa memahami Al-Qur’an lebih dari Allah SWT, maka para mufassir sering menulis kata wallahu a’lam bish as-sawaab atau wallahu a’lam bi muraadih di akhir tafsirannya.

Hermeneutika juga bisa dikatakan sebagai cabang dari filsafat dengan adanya perubahan dari “metafisika menjadi hermeneutika”. Hal ini terlihat dari sebuah kritik epistimologi Immanuel Kant. Kritik tersebut ditujukan atas metafisika. Dalam bukunya “Critique of Pure Reason”, Kant mengecam metafisika yang telah berumur lebih seribu tahun yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Menurutnya metafisika hanya melahirkan pengetahuan yang subjektif. Pengetahuan itu dihasilkan atas dasar otoritas suatu konsep berpikir yang menghasilkan ide. Ia menawarkan sebuah terobosan metafisika baru yang berupa hermeneutika. Dengan konsep Logic of Transcendental, bahwa pikiran kita mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan yang akhirnya apabila pikiran kita akan memproses suatu pengetahuan maka pengetahuan-pengetahuan yang dikumpulkan oleh pikiran kita akan ikut memproses pengetahuan baru, sehingga hasilnya tidak subjektif melainkan lebih objektif.

            Untuk melihat lebih lanjut mengenai definisi hermeneutika, perlu diuraikan tentang enam definisi modernnya, karena hal ini akan membantu kita untuk mengetahui asal-asul dan perjalanan sejarah hermeneutika, walaupun tidak secara luas dan mendalam.

  1. 1.      Hermeneutika Sebagai Teori Eksegesis Bibel (abad ke-17)

Hermeneutika pada awalnya merupakan teori penafsiran Bibel dan hal ini mempunyai justifikasi historis. Hermeneutika merupakan kaidah-kaidah yang terkandung dalam buku-buku interpretasi kitab suci (skriptur). Karya J. C. Dannhauer, Hermeneutica sacra sive methodus exponendarum sacrarum litterarum, yang diterbitkan pada 1654 membenarkan hal ini. Oxford English Dictionary, kamus bahasa Inggris, pun memperkuat hal ini, yang mencantumkan kata hermeneutika sebagai salah satu entrynya tahun 1737 yang berarti: “bersikap bebas dengan tulisan suci, seperti sama sekali tidak diperkenankan menggunakan beberapa kaidah yang kita ketahui dari sekedar hermeneutika seperti apa adanya”.

Pada abad ke-17 hermeneutika sudah menjalar kepada penerapan penafsiran tekstual dan teori-teori interpretasi keagamaan, satra dan hukum. Dari hal ini kiranya senada secara perhitungan waktu atau abad yang disebut “modern”, yaitu semenjak abad ke-15, yang ditandai dengan renaisance, maka abad ke-17 termasuk waktu modern, secara angka tahun.

  1. 2.      Hermeneutika Sebagai Metode Filologis (abad ke-18)

Filologi adalah studi tentang budaya dan kerohanian suatau bangsa dengan menelaah karya-karya sastra-nya (atau sumber-sumber tertulis lainnya).[5] Metode filologi digunakan dalam memahami Bibel secara lebih sempurna, karena telah bernjalannya dan berbedanya ruang dan waktu, sehingga membutuhkan usaha yang lebih untuk memahami pesan Bibel, terutama Perjanjian Baru, agar relevan dengan zaman. Hermeneutika Bibel pada hakekatnya adalah definisi lain dari metode filologi, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan sama sekali.

  1. 3.      Hermeneutika sebagai Ilmu Pemahaman Linguistik   

Schleirmacher tidak menerima kaidah-kaidah interpretasi sebelumnya begitu saja. Bahkan ia pergi jauh meninggalkannya, karena menurutnya hermeneutika bukan sekedar ilmu, tetapi juga seni memahami. Ia merintis hermeneutika non-disipliner yang sangat signifikan bagi diskusi sekarang, yaitu hermeneutika sebagai studi pemahaman bukan kaidah-kaidah. Hermeneutika ini disebut hermeneutika umum (allgemeine hermeneutik) yang prinsip-prinsipnya bisa digunakan sebagai fondasi bagi semua ragam interpretasi teks. 

  1. 4.      Hermeneutika sebagai Fondasi Metodologi bagi Geisteswissenschaften (abad ke-19)

Mengadopsi ilmu gurunya, Schleirmacher, Dilthey berusaha menerapkan hermeneutika sebagai metode untuk melayani geisteswissenschaften (semua disiplin ilmu yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia). Dia juga mempunyai proyek “kritik nalar historis” yang berbeda dengan filsafat sejarahnya Hegel, karena Dlthey tidak mengklasifikasikan sejarah sebagaimana Hegel, tetapi ia menekankan pada kritik akal sejarah. Pada awalnya proyeknya ini agak tersumbat, karena ia menggunakan analisa psikologis yang bukan merupakan disiplin historis, tetapi dengan hermeneutika ia menemukan sesuatu yang sesuai dalam memperlakukan geisteswissenschaften.

  1. Hermeneutika sebagai Fenomenologi Dasein dan Pemahaman eksistensial (abad ke-20)

Model hermeneutika ini diusung oleh seorang eksistensialis Martin Heidegger yang kemudian diteruskan oleh Hans George Gadamer. Eksistensialisme adalah aliran salah satu aliran filsafat yang mempunyai prinsip darsar “eksistensi mendahului esensi” (existence precedes essence). Apa yang dikatakan eksistensi adalah manusia. Aliran filsafat ini tampaknya sangat berpengaruh padanya. Kebenaran menurutnya adalah menemukan eksistensi. Dia menggambarkan fakta dengan kalimat “alam tidak mungkin ada tanpa adanya aku, atau aku tidak mungkin ada tanpa adanya alam”.[6] Pada intinya, menurut Heidegger, adalah bahwa manusia selalu “membelum” atau belum dan belum meraih eksistensinya. Oleh karena itu, melakukan penafsiran atau interpretasi adalah menemukan dirinya sendiri dalam teks dan tidak ada interpretasi final.

Jadi, fenomenologi dasein (da: di sana, sein: berada), istilah ini digunakan oleh Heidegger untuk menunjuk kepada manusia yang bereksistensi, adalah ilmu tentang fenomena manusia dalam bereksistensi lewat kegiatan menafsirkan. Sedangkan pemahaman eksistensial adalah pemahaman yang didasarkan pada eksistensi manusia, karena manusia selalu membelum, maka tidak ada pemahaman pemahaman final. Pemahaman tersebut akan terus berlanjut sesuai dengan space and time hermeneut.

  1. Hermeneutika sebagai Sistem Interpretasi: Menemukan Makna vs. Ikonoklasme (abad ke-20)   

Sesuatau yang kita pahami adalah sesuatu yang dilingkupi simbol-simbol. Adalah Paul Ricoeur (1965) yang meneliti lebih lanjut mengenai hal tersebut. Studinya membedakan antara univokal dan equivokal; simbol univokal adalah tanda dengan satu makna yang ditandai, seperti simbol-simbol dalam logika simbol, sementara simbol equivokal adalah fokus sebenarnya dari hermeneutika.[7]

Obyek interpretasinya mulai dari teks dalam pengertian yang luas, yang bisa berupa simbol dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari simbol dalam masyarakat atau sastra. Oleh karena itu, dalam menginterpretasi teks dilakukan interpretasi recollective, dan untuk menginterpretasi mitos digunakan teori demitologisasi dan demistifikasi. Untuk lebih mendalam sebaiknya dirujuk bukunya yang berjudul “Symbol of Evil”.

 

  1.     II.        Ruang Lingkup Hermeneutika

Apakah yang dibahas hermeneutika? Sebagian ada yang menjawabnya dengan sederhana bahwa hermeneutika adalah model pemikiran dan perenungan filosofis yang bertujuan untuk menjelaskan pengertian pemahaman (verstehen understanding) dan ia berusaha menjawab pertanyaan, “Apa yang akan dibuat oleh sebuah makna kepada yang memiliki makna?” Bisa jadi sesuatu itu berupa bait syair atau teks undang-undang, perbuatan manusia, bahasa, kultur asing atau personal.[8]

Adatiga pendapat mengenai hermeneutika:[9]

  1. Hermeneutika khusus (regional hermeneutics) yaitu hermeneutika sebagai cabang dari disiplin ilmu. Setiapmedan ilmu mempunyai hermeneutikanya masing-masing dan digunakan untuk medannya yang khusus sesuai bidang ilmunya.
  2. Hermeneutika umum (general hermeneutics) yaitu hermeneutika yang tidak terkait dengan cabang ilmu-ilmu tertentu. Hermeneutika ini menggabungkan semua cabang ilmu untuk memahami. Pelopornya adalah Freidrich Schleirmacher (1768-1834 M). Hermeneutika ini tersusun darai kaidah-kaidah dan dasar-dasar umum yang berisi berbagai macam ilmu pengetahuan yang mengontrol proses pemahaman secara benar.
  3. Hermeneutika filsafat (hermeneutical philosophy). Obyeknya bukan teks yang dipahami, tetapi pemahaman itu sendiri yang ditempuh dengan perenungan filosofis. Hermeneutika ini tidak mengenal kaidah-kaidah untuk mencapai kebenaran pemahaman, melainkan tidak mengenal kebenaran melalui metode ilmiah.

 

  1.  III.        Sejarah Munculnya Hermeneutika

Berpijak pada penulisan entri hermeneutika dalam Oxford English Dictionary melegitimasi pijakan kuat bahwa hermeneutika muncul di Barat berhubungan secara mendasar dengan problem pemahaman kitab suci umat Kristiani. Kritik internal seorang pemuka Kristen Katolik, Martin Luther (1483-1546 M) membukakan keran bagi hermeneutika untuk mengalirkan airnya bukan hanya ke ranah teologi, tetapi juga ke semua ilmu humaniora. Ia menyerukan untuk membaca Bibel secara bebas.

Adatiga hal yang menjadi problem masyarakat Kristen sejak lama:

  1. Penetapan Injil-Injil yang dinukil secara verbal kepada mereka ke dalam bentuk korpus tertulis.
  2. Terbentuknya sekumpulan syari’at langit dan pada waktu yang sama menjelaskan hubungan antara Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB).
  3. Membentuk doktrin-doktrin primer dengan bantuan pemahaman-pemahaman filsafat Yunani kuno.[10]

Semua ragam ini memiliki karakteristik hermeneutis seperti ceramah misionaris dan pengajaran Kristen serta pengungkapan-pengungkapan lain yang hidup dari teologi gereja.[11]

 

  1.   IV.        Madzhab-Madzhab Hermeneutika

Adatiga madzhab besar hermeneutika:

  1.         I.      Hermeneutical Theory, yaitu hermeneutika sebagai metode. Madzhab hermeneutika ini terikat dengan kaidah-kaidah dan dasar-dasar dalam interpretasi. Tokoh utama yang berjasa meletakkan hermeneutika ini adalah Wiliam Dilthey (1833-1911 M) yang dilanjuntkan oleh Emilio Betti (1890-1968 M).
  2.      II.      Hermeneutical Philosophy, yaitu madzhab hermeneutika yang tidak berkaidah atau tidak sebagai metode. Hermeneutika ini dipengaruhi oleh aliran filsafat eksistensialiame yang menekankan pada pemahaman eksistensial. Tokohnya adalah filsuf Jerman Hans George Gadamer.

Bagi Gadamer hermeneutika tidak bersifat reproduktif belaka, tetapi juga produktif. Bagi dia makna tidak harus makna dari pengarangnya, melainkan makna bagi kita yang hidup di zaman ini.[12] Kiranya ini tidak cocok dengan Al-Qur’an, bahwa kata dan makna berasal dari Allah, bahkan Muhammad pun tidak bisa mengubah walaupun sedikit. Memang makna Al-Qur’an haruslah serasi dengan zaman kita hidup, karena Al-Qur’an memang sebagai kitab bagi seluruh manusia hingga akhir zaman. Kalau begitu makna Al-Qur’an dari Allah yang sesuai dengan zaman kapanpun, hanya kita saja yang harus bisa menangkapnya.

Pendekatan penafsiran ala Gadamer tersebut ditemukan dalam hermeneutika Al-Qur’an Fazlur Rahman, yang berpretensi untuk menemukan makna subtantif dari historis dan diaktualisasikan di masa kekinian.

  1.    III.      Critical Hermeneutics. Kedua madzhab di atas hanya berkisar pada proses pemahaman, yang pertama dengan metode dan yang ke-dua tidak dengan metode. Mereka justru belum mempertanyakan apa yang mereka pahami yaitu teks itu sendiri. Yang seharusnya mereka pertanyakan adalah “apakah makna teks memiliki kebenaran atau tidak”. Teori hermeneutika ini menilai diskusi hal itu berada di luar area metodologi dan epistemologi.[13] Pelopor madzhab ini adalah filsuf Jerman, Juergen Habermas (1929-…).

Kemudian dari tiga madzhab besar di atas, muncul aliran-aliran hermeneutika. Berikut nama-namanya dan tokoh-tokohnya:

  • “Hermeneutika Simbolis dan Tipologis”. Philon of Alexandria adalah ikon yang penting di dalamnya.
  • “Hermeneutika Dalam dan Aksioma Semesta Alam”. Tokoh-tokohnya adalah Agustin, Martin Luther, dan Matias Flasius.
  • “Hermeneutika Kritis”. Denhaur, John Calladinus, dan George Mayer adalah tokoh-tokohnya.
  • “Hermeneutika Romansia”. Schleirmacher adalah pemukanya.
  • “Hermeneutika Historis”. F. Ast, John Droezn, dan Wiliam Dilthey adalah tokoh-tokohnya.
  • “Hermeneutika Fenomenologi dan Eksistensialis”. Tokohnya adalah Edmund Hussrel, Martin Heidegger, Fraiburgh, dan Gadamer.[14]

 

  1.   IV.      Sebuah Pertimbangan

Secara garis besar aliran hermeneutika terbagi menjadi dua aliran; obyektif (arti gramatikal kata-kata dan variasi-variasi historisnya) dan subyektif (maksud pengarang). Dalam kesimpulan makalahnya, yang ditulis untuk seminar Nasional di IAIN WalisongoSemarang, Prof. Dr. Yunahar Ilyas menulis bahwa ilmu tafsir kita jauh lebih kaya dari metode hermeneutika. Berbagai corak dan metode telah ada dalam khazanah keilmuan Islam. Seperti kita tahu disanaada model tafsir bahasa, fikih, filsafat, tasauf dan sosiologi kemasyarakatan, sehingga kita tidak dalam keadaan mendesak untuk harus mengadopsi semua metode yang diterapkan pada hermeneutika.

Beliau menambahkan bahwa ada perbedaan yang paling subtantif antara tafsir dan hermeneutika yaitu pandangannya terhadap nash Al-Qur’an. Hermeneutika memperlakukan semua nash (teks), sehingga tidak ada unsur sakralnya. Tidak senada dengan tafsir. Al-Qur’an adalah teks suci yang diwahyukan kepada Muhammad dari Allah SWT melalui perantara Jibril dan Muhammad sebagai perantara yang terpaksa (tidak berhak menyusun kata-kata). Lahan kritik, aktualisasi makna, dan pemahaman dalam tafsir adalah penafsiran itu sendiri, bukan teks Al-Qur’anya, berbeda dengan kritik hermeneutika Bibel.

Bukti nyata bahwa dalam tradisi kitab suci Bibel, bahwa bagaimana susunan, apa saja unsur-unsurnya pernah mengalami perubahan, tidak seperti Al-Qur’an. Perubahan tersebut terjadi lewat konsili-konsili gereja yang sudah dilakukan puluhan kali, yang salah satu agendanya adalah untuk membahas teks Bibel. Dalam Islam tidak pernah dilakukan hal semacam ini. Berikut adalah beberapa konsili yang merumuskan teks Bibel:[15]

No.

Nama Konsili/TH

Masalah

Hasil

1.

Konsili Lodesia (364 M) Menentukan beberapa kitab menjadi bagian dari kitab suci –       Memasukkan 7 kitab lagi sebagai kitab suci, yaitu: surah 1 Petrus; atau surah Paulus kepada Petrus 1; surah II Petrus atau surah paulus kepada Petrus 2 . . . dst.

–         Sedangkan kitab wahyu Kepada Yohanes dianggap sebagai kitab yang dikeragui.

2.

Konsili Roma (382) Tata susunan Bibel –         Tata susunan Bibel yaitu 1. Injil yang empat, 2. Surat Paulus yang 14, 3. Wahyu kepada Yohanes, 4. Kisah para Rasul, 5. Surat-surat Katolik yang tujuh

3.

Konsili Chartage (397) Penambahan Bibel –         Menerima ttujuh kitab lainnya, yaitu: Hikmah, Jami’ah, Tobit, Mokaben 1, Mokaben 2, dan wahyu kepada Yohanes

Sudah puluhan konsili gereja yang diadakan hingga pertengahan abad ke-16 yang dihadiri oleh para uskup, para pemikir, dan juga para filsuf dengan biaya besar demi melakukan voting untuk menentukan mana kitab kitab yang pantas untuk dijadikan kitab suci.[16] Sekarang pertannyaannya adalah “apakah umat Islam pernah melakukan hal di atas?”. Tidak satu pun umat Islam di dunia ini yang meragukan keotentikan Kitab Suci Al-Qur’an. Mengutip pernyataan Syaikh abdul Halim Mahmud yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Al-Qur’an”: Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukan kelemahan Al-Qur’an, tidak mendapatkan celah untuk meragukan keontetikannya”.[17]

Akhirnya, penulis tidak menyimpulkan makalah ini. Dari uraian-uraian di atas, kita dapat mempertimbangkan hermeneutika sebagai pengganti tafsir atau menggunakannya untuk menafsirkan Al-Qur’an.Adapenelitian yang menunjukkan bahwa metode-metode yang diimpor dari Barat banyak yang berbenturan keras dengan hal-hal aksioma dalam Islam. Masih perlu dikaji dan diteliti lebih dalam lagi tentang kelayakan hermeneutika untuk menafsirkan Al-Qur’an.

 

  1.      V.      Referensi

Gordin, Jean, Sejarah Hermeneutika, terj. Inyiak Ridwan Muzir,Jakarta: ar-Ruzz Media, 2007.

Ilyas, Yunahar, Perlukah Hermeneutika dalam Menafsirkan Al-Qur’an, makalah seminar Nasional “Hermeneutikaphobia”, Fakultas Ushuluddin, Tafsir Hadits, IAIN Walisongo Semarang, Kamis, 29 Oktober 2009.

Ismail, Muhammad, al-Husaini, al-haqiqah al-muthlaqah, terj. Alimin (Kebenaran Mutlak), Jakarta: Sahara Publisher, 2006.     

Palmer, Richard E., Interpratation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, terj. Mansur Hery & Damanhuri M, Hermeneutika, Teori Baru Mengenai Interpretasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Partanto, Pius A. dan Al-Barry, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer,Surabaya: Arkola.

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat,Jakarta: Mizan, 2009.

Salim, Fahmi, Kritik terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal,Jakarta: Perspektif, 2010.

Sumaryono, E., Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat,Yogyakarta : Kanisius, 1994.

 

 


[1] Richard E. Palmer, Interpratation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, terj. Mansur Hery & Damanhuri M, Hermeneutika, Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 14.

[2] Ibid., hal 15.

[3] Yunahar Ilyas, Perlukah Hermeneutika dalam Menafsirkan Al-Qur’an, makalah seminar Nasional  Hermeneutikaphobia, Fakultas Ushuluddin, Tafsir Hadits, IAIN Walisongo Semarang.

[4] Lihat Fahmi Salim, Kritik terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, hal 53-55.

[5] Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, hal. 178.

[6] Muhammad al-Husaini Ismail, al-haqiqah al-mutlaqah, terj. Alimin (Kebenaran Mutlak), hal. 558.

[7] Richard, op. cit., hal. 48.

[8] Fahmi Salim, Kritik terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, hal. 55.

[9] Baca Fahmi Salim, Kritik, op. cit., hal. 56-57.

[10] Fahmi Salim, Kritik, op. cit., hal. 125.

[11] Ibid., hal 125.

[12] Yunahar Ilyas, Perlukah, op. cit., hal. 10.

[13] Ibid., hal. 140.

[14] Ibid., hal. 142.

[15] Muhammad al-Husaini Ismail, al-haqiqah, op. cit., hal. 364-365.

[16] Ibid., hal. 363.

[17] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, hal. 28.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pengaruh Sosial dan Persuasi

  1.        I.            Mukadimah

Sikap dan perilaku individu sangat erat keterpengaruhannya dengan lingkungan sosial. Karl Marx pernah menyatakan bahwa masyarakat merupakan sesuatu yang inheren dalam diri manusia, pikiran dan sikap seseorang sangat bergantung pada masyarakatnya. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang. Faktor-faktor tersebut sebagian berasal dari dalam dan dari luar.   Perilaku orang lain dapat mengakibatkan seseorang berubah pikiran, sikap dan pendapat, baik yang mereka sadari maupun tidak.

Terkadang sikap seseorang terhadap sesuatu tidak berubah, tetapi perilakunya seolah-olah menunjukan bahwa sikap orang itu berubah. Terkadang juga perilaku seseorang berubah, tetapi belum tentu sikap orang itu terhadap sesuatu itu ikut berubah. Hal tersebut menunjukan bahwa perilaku seseorang (one’s behavior) yang bermaksud mempengaruhi orang lain mempunyai target yang berbeda, karena pada dasarnya manusia memiliki dua dimensi, yang satu tampak dan yang satu lagi tidak.

Pada pertemuan sebelumnya, telah dibahas tentang sikap seseorang dan alasannya mengapa sikap dan perilaku sering tidak sesuai. Jawabannya adalah karena pengaruh sosial yang menaunginya. Apa saja bentuk-bentuk dan bagaimana faktor-faktor yang menyebabkan pengaruh-pengaruh sosial tersebut efektif adalah yang menjadi pembahasan kali ini.

 

  1.     II.            Pembahasan  
    1. Pengertian Pengaruh Sosial

“Social influence occurs when one person’s behavior causes another person to change an opinion or to perform an action that he or she would not otherwise perform” (pengaruh social terjadi ketika perilaku seseorang mengakibatkan orang lain mengubah sebuah pendapat atau melakukan sesuatu yang sebenarnya seseorang tidak ingin melakukan). Jadi pengaruh social adalah perilaku seseorang yang mengakibatkan orang lain berubah pikiran dan melakukan sesuatu yang bukan keinginannya. Orang yang mempengaruhi disebut (the source) dan orang yang dipengaruhi disebut (the target).

  1. Bentuk-Bentuk Pengaruh Sosial

1)   Komunikasi persuasif yang bertujuan untuk mengubah sikap dan kepercayaan (bukan Agama) target.

2)   Ancaman dan janji yang berpretensi untuk meraih kepatuhan target.

3)   Kekuasaan resmi untuk yang bertujuan untuk memperoleh ketaatan target.

  1. Sikap via Persuasi

 

Persuasi bisa diartikan sebagai usaha untuk mengubah sikap dan kepercayaan melalui informasi dan argument. Ketika target menerima pesan (message) yang berbeda dari pendiriaanya, maka munculah respon yang bermacam-macam :

1)      reject the message (menolak pesan atau informasi)

2)      derogate the source (mencela the source)

3)      suspend judgment (mencari informasi tambahan untuk menentukan keputusan, menolak atau menerima)

4)      distort the message (tidak menanggapi informasi dan menyimpannya dalam “skema” yang mungkin suatu saat akan mengubah sikapnya)

5)      attempt counterpersuasion (melancarkan argumentasi balik)

 

Central and Peripheral Routes

            Informasi atau pesan yang ditujukan kepada target diproses melalui dua jalan ini. Persuasi melalui jalur central route terjadi ketika pesan atau informasi yang berisi argumen dari the source diproses, dievaluasi dan diintegrasikan dengan posisi yang ideal. Proses ini sementara oleh para ahli, Petty dan Cacioppo, disebut “elaborasi”. Informasi atau pesan yang sebelumnya telah didapatkan oleh the target juga ikut dala proses tersebut. Perubahan sikap terjadi ketika argument yang diberikan the source kuat dan konsisten dengan fakta-fakta yang wajar.

Sebaliknya, persuasi melalui jalur yang kedua ini, peripheral route, terjadi ketika target tidak mengelaborasi pesan, bahkan yang diperhatikan adalah hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pesan (message). Hal-hal tersebut adalah :

  • keadaan source (expertise, trustworthiness, likableness)
  • atribut palsu pesan (panjang pendeknya pesan)
  • situasi (respon dari orang lain)

 

Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa suatu pesan atau informasi itu dielaborasi atau tidak, seperti keterlibatan target terhadap suatu isu, pembawaan target, maksudnya adalah apakah memang target seseorang yang cenderung bias memperlakukan informasi dengan baik atau suka mengabaikan informasi, dan faktor yang lain adalah mengenai distractions (gangguan) yang ada ketika target menerima pesan. Biasannya sikap yang berasal dari proses central route akan lebih membekas dan sulit diubah daripada yang melalui peripheral route, karena target telah berfikir secara lebih detail dengan jalur central route.

 

Paradigma Komunikasi Persuasi

            Pertanyaan umum “Siapa mengatakan apa kepada seseorang, efek apakah yang dihasilkan?” merupakan paradigm dari pengaruh social. Siapa adalah the source, apa adalah the message dan seseorang adalah the target, sedangkan efek apakah adalah reaksi atau hasil dari komunikasi persuasi ini. Hal tersebut bias digambarkan sebagai berikut :

 

 

Source                        Message                      Target                             Effect

expertise                     discrepancy                 intelligence                   change attitude

trustworthiness           fear appeal                  involvement                  reject message

attractiveness             1-side or 2-side           forewarned                    counterargue

suspend judgment

derogate source

 

Kepatuhan terhadap Ancaman dan Janji

Suatu hal yang penting dalam kaitanya dengan perubahan sikap adalah tidak hanya sesuatu yang dihasilkan dari pengaruh social, akan tetapi termasuk juga kepatuhan, yaitu kesesuaian tingkah laku antara sumber permintaan dan sasaran. Kepatuhan merupakan sebuah fungsi dari pentingnya hukuman atas ancaman dan kepercayaan.

Pengaruh berdasarkan janji dan ancaman berbeda dengan persuasi yang bersifat fundamental. Dalam persuasi, sumber mencoba untuk mengubah cara pendekatan pada target agar mengetahui keadaan yang baru.

Ancaman adalah sebuah komunikasi yang berasal dari satu orang (sumber) kepada orang lain (sasaran) yang berbentuk umum, seperti contoh “jika kamu tidak melakukan X (which I want), maka saya akan melakukan Y (which you don’t want)” (Boulding, 1981: Tedeschi, Schlenker & Linskold, 1972). Ketika seseorang mengeluarkan ancaman, sanksi yang di keluarkan diantaranya meliputi pemukulan anggota badan, kehilangan pekerjaan, kehilangan kasih saying dll.  Point penting dalam hal ini adalah bahwa ancaman tersebut menjadi efektif dan sasaran harus mau menghindari sanksi yang diberikan.

Janji hampir sama dengan ancaman, terkecuali jika janji tersebut termasuk pemberian hadiah bukan hukuman. Sebagai contoh “jika kamu melakukan X (which I want), maka saya akan melakukan Y (which you want)”. Hal ini merupakan janji berupa hadiah yang diberikan oleh sumber sebagai control kepada sasaran.

Keefektifan Ancaman dan Janji

Dengan mengeluarkan janji, sumber menciptakan pilihan aturan pada sasaran.

Kemungkinan tanggapan yang diperoleh dari ancaman dan janji tersebut menimbulkan dua pertanyaan pokok, yaitu apakah kondisi akan mengancam atau menjanjikan kesuksesan dalam memperoleh kepatuhan dan apakah kondisi tersebut akan gagal mereka dapatkan? Diantara karakteristik tertentu dari ancaman dan janji adalah:

Pentingnya Ancaman dan Janji

Ancaman dan janji penting apabila sesuai dengan konsekuensi yang muncul dari adanya janji dan ancaman tersebut. Kepatuhan terhadap ancaman secara langsung merubah pentingnya hukuman yang disertakan. Sasaran akan menolak ancaman yang ringan konsekuensi, mereka lebih memilih konsekuensi yang serius.

Kebenaran Ancaman dan Janji

Dikatakan sombong atau tidak, seseorang yang mengeluarkan ancaman ingin target tersebut percaya bahwa ancaman tersebut adalah sungguh-sungguh dan untuk memenuhi tuntutannya. Untuk menilai kesungguhan ancaman tersebut, target atau sasaran mempertimbangkan kerugian yang ada pada ancaman tersebut.

Sasaran juga akan memperhitungkan kebenaran sebuah ancaman dari identitas social pemiliknya. Contoh ancaman yang melibatkan kekerasan fisik, seperti, lebih dipercaya jika kekerasan fisik itu berasal dari seorang ahli karate bersabuk hitam dari pada 97 pemukul lemah yang terkenal.

The SEV Model

Threat’s subjective expected value adalah sebuah ukuran dari tekanan yang membuat sasaran merasakan adanya ancaman. Model ini memprediksikan kepatuhan sasaran atas ancaman tergantung pada dua factor yaitu: SEV atas ancaman dan kerugian sasaran atas kepatuhan terhadap ancaman tersebut. Meskipun model SEV di deskripsikan sebagai bentuk dari ancaman, model ini juga dapat diterapkan dalam janji. Tentunya variable yang sesuai dalam model ini adalah pentingnya hadiah dan janji yang dapat dipercaya.

Masalah-masalah dalam penggunaan ancaman dan janji

Ancaman-ancaman dan janji-janji memberikan permasalahan tertentu pada pemiliknya, diantaranya:

  1. Seseorang yang menggunakan ancaman dan janji harus menjaga pengawasan untuk menentukan apakah sasarannya telah patuh. Masalah ini diperlukan beberapa hal oleh sumber dalam bentuk waktu dan masalah untuk mengawasi kepribadian sasaran. Masalah-masalah tersebut diantaranya jika sumber menggunakan ancaman maka pengawasan dapat di khususkan dalam hal yang menyusahkan sasaran.
  2. Ancaman seringkali menyebabkan dendam atau permusuhan diantara sumber dan sasaran. Janji biasanya tidak terdapat kesusahan, karena kedua belah pihak mendasarkan pada hadiah bukan hukuman.

 

Hubungan timbal balik antara Ancaman dan Janji

Dalam hal ini dapat di ketahui berbagai macam makna pengaruh, termasuk persuasi, ancaman dan janji. Seseorang menyandarkan pada anggapan sederhana bahwa pengaruh seringkali hanya terjadi pada satu arah saja yaitu dari sumber kepada sasaran. Meskipun demikian, keduanya mampu mengetahui maksud (from the source) dan respon (from the target) yang diberikan.

–         Negosiasi

Negosiasi diartikan sebagai media komunikasi antara kedua belah pihak yang bertikai, dimana salah satunya memberikan tawaran, dan solusi akan tercapai jika keduanya telah sepakat. Negosiasi mencoba untuk menemukan titik temu yaitu kompromi.

–         Penolakan dan konflik spiral

Ancaman bilateral dapat berubah menjadi konflik spiral yang meluas. Dalam konflik spiral ini, kedua belah pihak memaksa untuk patuh pada perintah atau keinginanya, meskipun mereka sadar kalau pihak yang lain memberikan kerusakan.

–         Perbedaan kekuatan dan penolakan

Perbedaan kekuatan berakibat pada participant, pemilik ancaman, pembuat pelonggaran, dan pada kekuatan. Situasi dimana tidak ada persamaan kekuatan diantara kedua belah pihak, maka akan terjadi penolakan satu sama lain.

 

Kepatuhan Pada Penguasa

Penguasa mengarahkan pada kemampuan anggota untuk mengeluarkan perintah atau meminta pada anggota lain dengan memohon hak tetap dalam perannya sebagai anggota. Kepatuhan pada penguasa dapat memberikan akibat negative, khususnya jika perintahnya melibatkan tindakan moral yang tercela.

Dalam membahas kepatuhan pada penguasa ada dua pertimbangan yaitu beberapa percobaan yang menarik atas rusaknya kepatuhan dan beberapa factor yang menentukan dimana sasaran akan patuh dengan petunjuk penguasa atau menolaknya.

 

Faktor yang mempengaruhi kepatuhan pada penguasa :

¨      Berterus terang, yakni persoalan apakah seseorang memberi perintah dengan symbol yang jelas, seperti memakai seragam dengan memerintahkan memakai lencana.

¨      Apakah seorang penguasa dapat mem-backup permintaannya dengan hukuman disaat tidak ada kepatuhan.

¨      Posisi pelaku pada kompleksnya rangkaian permintaan.

 

Kesimpulan

Pengaruh sosial dan persuasi, terutama yang efektif, mempunyai andil besar dalam membentuk sikap dan tingkah laku seseorang. Seseorang, dalam menentukan sikap dan perilaku yang dia putuskan, tidak bisa lepas dari pengaruh sosial dan persuasi tersebut. Pendirian yang kukuh dan disertai alasan yang kuat akan memenangkan dalam keterpengaruhan orang lain dan lingkungannya.

             

Referensi

Delamater, John, D. and Michener H. Andrew, Social Psychology, Orlando: Harcourt Brace College Publishers, 1999.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Macam-Macam Ketidakadilan Gender

Pendahuluan

 

Laki-laki dan perempuan berada di muka bumi ini mempunyai tugasnya masing-masing. Tugas itu bisa berupa tugas alami atau kodrati dan tugas yang melekat padanya karena bangunan atau konstruksi sosial, adat, agama dan masyarakat di mana mereka huni. Masing-masing ada jatahnya.

Berpijak pada analisis gender yang bertujuan untuk menghapus kesalahpahaman masyarakat tentang dua kata “gender dan sex” juga bertujuan untuk menghilangkan ketidakadilan gender (gender inequality). Ketidakadilan gender berdampak buruk terutama terhadap perempuan yang sering dirugikan akibat kesalahpahaman tersebut.

Sosialisasi gender yang telah berlangsung di tengah masyarakat dalam waktu yang tidak sedikit mengakibatkan menancapnya pemahaman, bahkan keyakinan, bahwa apa yang dilakukan perempuan dan laki-laki serta perannya dalam masyarakat merupakan hal yang kodrati. Oleh karena itu, pandangan umum masyarakat tentang perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan sudah tidak bisa dipertukarkan.

Dalam makalah ini kami bermaksud membahas tentang pandangan sebelah mata terhadap keberadaan dan peran perempuan atau ketidakadilan gender yang terjadi di tengah-tengah masyarakat serta mengurai sedikit berbagai macamnya.

 

Ketidakadilan Gender (Gender Inequality)

 

Perbedaan gender sesunggunhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (Gender Inequality).[1] Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut.[2] Ketidakadilan gender itu menurut para feminis akibat dari kesalahpahaman terhadap konsep gender yang disamakan dengan konsep seks.[3]

Perbedaan gender mengakibatkan ketidakadilan. Ketidakadilan tyersebut bisa disimpulkan dari manifestasi ketidakadilan tersebut yakni: Marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan (violence) dan beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden) atau (double burden). Berikut kita uraikan masing-masing dari bentuk ketidakadilan gender tersebut.

 

  • Marginalisasi:

 

Marginalisasi artinya : suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan.

Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seseorang atau kelompok. Salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender. Misalnya dengan anggapan bahwa perempuan berfungsi sebagai pencari nafkah tambahan, maka ketika mereka bekerja diluar rumah (sector public), seringkali dinilai dengan anggapan tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka sebenarnya telah berlangsung proses pemiskinan dengan alasan gender.

Contoh :

1)      Guru TK, perawat, pekerja konveksi, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dinilai sebagai pekerja rendah, sehingga berpengaruh pada tingkat gaji/upah yang diterima.

2)      Masih banyaknya pekerja perempuan dipabrik yang rentan terhadap PHK dikarenakan tidak mempunyai ikatan formal dari perusahaan tempat bekerja karena alasan-alasan gender, seperti  sebagai pencari nafkah tambahan, pekerja sambilan dan juga alasan factor reproduksinya, seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.

3)      Perubahan dari sistem pertanian tradisional kepada sistem pertanian modern dengan menggunakan mesin-mesin traktor telah memarjinalkan pekerja perempuan.

 

  • Subordinasi

 

Subordinasi Artinya : suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain.

Telah diketahui, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan public atau produksi.

Pertanyaannya adalah, apakah peran dan fungsi dalam urusan domestic dan reproduksi mendapat penghargaan yang sama dengan peran publik dan produksi? Jika jawabannya “tidak sama”, maka itu berarti peran dan fungsi public laki-laki. Sepanjang penghargaan social terhadap peran domestic dan reproduksi berbeda dengan peran publik dan reproduksi, sepanjang itu pula ketidakadilan masih berlangsung.

Contoh :

  1. Masih sedikitnya jumlah perempuan yang bekerja pada posisi atau peran pengambil keputusan atau penentu kebijakan disbanding laki-laki.
  2. Dalam pengupahan, perempuan yang menikah dianggap sebagai lajang, karena mendapat nafkah dari suami dan terkadang terkena potongan pajak.
  3. Masih sedikitnya jumlah keterwakilan perempuan dalam dunia politik (anggota legislative dan eksekutif ).

 

  • Sterotipe atau Pelabelan Negatif

 

Semua bentuk ketidakadilan gender diatas sebenarnya berpangkal pada satu sumber kekeliruan yang sama, yaitu stereotype gender laki-laki dan perempuan.Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra bakuatau label/cap kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat.

Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya.Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang  yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain.Pelabelan negative juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun seringkali pelabelan negative ditimpakan kepada perempuan.

Contoh :

a)      Perempuan dianggap cengeng, suka digoda.

b)      Perempuan tidak rasional, emosional.

c)      Perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting.

d)      Perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah tambahan.

e)      Laki-laki sebagai pencari nafkah utama.

 

  • Kekerasan

 

Kekerasan (violence) artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan.

Contoh :

  1. Kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya di dalam rumah  tangga.
  2. Pemukulan, penyiksaan dan perkosaan yang mengakibatkan perasaan tersiksa dan tertekan. Perkosaan juga bisa terjadi dalam rumah tangga karena konsekuensi tertententu yang dibebankan kepada istri untuk harus melayani suaminya. Hal ini bisa terjadi karena konstruksi yang melekatinya.
  3. Pelecehan seksual (molestation), yaitu jenis kekerasan yang terselubung dengan cara memegang atau menyentuh bagian tertentu dari tubuh perempuan tanpa kerelaan si pemilik tubuh.
  4. Eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi.
  5. Genital mutilation: penyunatan terhadap anak perempuan. Hal ini terjadi karena alasan untuk mengontrol perempuan.
  6. Prostitution: pelacuran. Pelacuran dilarang oleh pemerintah tetapi juga dipungut pajak darinya. Inilah bentuk ketidakadilan yang diakibatkan oleh sistem tertentu dan pekerjaan pelacuran juga dianggap rendah.

 

  • Beban ganda (double burden):

 

Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya.

Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.

Segala bentuk ketidakadilan gender tersebut di atas termanifestasikan dalam banyak tingkatan yaitu di tingkat negara, tempat kerja, organisasi, adat istiadat masyarakat dan rumah tangga.

Tidak ada prioritas atau anggapan bahwa bentuk ketidakadilan satu lebih utama atau berbahaya dari bentuk yang lain. Bentuk-bentuk ketidakadilan tersebut saling berhubungan, misalnya seorang perempuan yang dianggap emosional dan dianggap cocok untuk menempati suatu bentuk pekerjaan tertentu, maka juga bisa melahirkan subordinasi.

Perbedaan gender akan melahirkan ketidakadilan yang saling berhubungan dengan perbedaan tersebut berikut tabelnya analisanya:

 

 

 

 

Keyakinan Gender

Bentuk Ketidakadilan Gender

Perempuan: lembut dan bersifat emosional Tidak boleh menjadi manajer atau pemimpin sebuah institusi
Perempuan: pekerjaan utamanya di rumah dan kalau bekerja hanya membantu suami (tambahan) Dibayar lebih rendah dan tidak perlu kedudukan yang tinggi/penting
Lelaki: berwatak tegas dan rasional Cocok menjadi pemimpin dan tidak pantas kerja dirumah dan memasak

 

Sosialisasi perbedaan gender yang berlagsung lama dan akhirnya melahirkan keyakinan yang melekat pada pandangan dan anggapan yang dari suatu masyarakat tertentu adalah faktor penting yang mengakibatkan ketidakadilan tersebut maka bisa digambarkan berikut:

 

Marginalisasi

Beban Ganda

 

 

 

 

 

 

 

 

Globalisasi merupakan tantangan tersendiri bagi usaha untiuk meniadakan ketidakadilan ini. Televisi adalah bentuk nyata dari arus globalisasi tersebut di mana televisi seakan menjadi transformasi nilai. Penayangan iklan-iklan tertentu yang berlebihan adalah sumber pemicunya. Contoh nyata adalah iklan produk susu yang mengakibatkan ASI dipandang tidak begitu penting dalam perkembangan anak, padahal sebaliknya. Contoh lain adalah iklan yang mempertontonkan gambar-gambar wanita yang vulgar. Gamba-gambar tersebut merupakan salah satu bentuk pornografi. Iklan-iklan produk tertentu juga sering menggunakan model perempuan yang dianggap cocok dengan karakter produk mereka, misalnya kelembutan, keanggunan dan kelincahah.

Di sisi lain para ahli dari kalangan akademis maupun non akademis menyelenggarakan acara seminar guna meluruskan kesalahpahaman tentang konsep gender dan sex yang menimbulkan ketidakadilan seperti seminar yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan menghadirkan Guru Besar, Prof Dr Markamah, dalam seminar Sastra Nasional Pembelajaran Sastra Berperspektif Kesetaraan Gender.

Kesimpulan

            Perbedaan gender bukanlah masalah sepanjang perbedaan ini tidak menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman yang tuntas mengenai konsep gender dan sex. Karena konsep gender yang telah melekat dalam masyarakat dengan proses yang panjang, maka pelurusan pemahaman juga membutuhkan waktu yang tidak singkat.

 

Referensi

Abdullah, Irwan, Sangkan Paran Gender,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Fakih, Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

Gandhi, Mahatma, Woman and Social Injustice, terj. Siti Farida (Perempuan dan Ketidakadilan Sosial),Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006.

Ilyas, Yunahar, Feminisme Dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.         

Nugroho, Riant, Gender dan Strategi Pengarusutamaannya Di Indonesia,Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008.

http://harianjoglosemar.com/berita/persepsi-gender-salah-timbulan-ketidakadilan-gender-14142.html

http://atwarbajari.wordpress.com/2008/04/17/wanita-dan-iklan-tv-ketidakadilan-gender/

 

 


[1] Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, hal. 12

[2] Ibid. hal. 12

[3] Yunahar Ilyas, Feminisme Dalam Kajian Tafsir  Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, hal. 42

Posted in Uncategorized | Leave a comment

http://www.azlyrics.com/lyrics/greenday/wakemeupwhenseptemberends.html

“Wake Me Up When September Ends”

Summer has come and passed
The innocent can never last
wake me up when September ends

like my father’s come to pass
seven years has gone so fast
wake me up when September ends

here comes the rain again
falling from the stars
drenched in my pain again
becoming who we are

as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends

summer has come and passed
the innocent can never last
wake me up when September ends

ring out the bells again
like we did when spring began
wake me up when September ends

here comes the rain again
falling from the stars
drenched in my pain again
becoming who we are

as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
wake me up when September ends

like my father’s come to pass
twenty years has gone so fast
wake me up when September ends
wake me up when September ends
wake me up when September ends

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Posted in Uncategorized | 1 Comment